Wisata Aktif dan Seru di Monschau

 

IMG_4208a
Sungai Ruhr yang membelah desa Monschau

Perjalanan malam yang menegangkan ketika menembus jalur “Highway to Hell” serta menunggu dalam ketidakpastian datangnya petugas hotel untuk mengantarkan kunci kamar penginapan, tak menyurutkan semangat kami sekeluarga untuk pergi lagi keluar hotel sebentar mengintip desa Monschau di waktu malam.

IMG_4114a
Suasana malam hari di desa Monschau

Keesokan harinya, kami balik lagi ke desa kuno yang jaraknya hanya sekitar 2,5 km dari penginapan. Namun kali ini menuju ke sananya kami mencoba rute yang berbeda agar parkirnya lebih dekat dengan pusat kota (altstad).

 

 

 Letak dan geografi Monschau

Jerman adalah negara federasi yang memiliki 16 wilayah negara bagian. Desa Monschau ini berada dalam wilayah Nordrhein-Westfalen, sekitar 40 km di sebelah selatan kota Achen.

Letaknyanya di tengah lereng taman alam Hoge Venen-Eifel di perbatasan antara Belgia dan Jerman. Untuk sampai ke pusat desanya, kendaraan kami melewati jalanan yang menurun tajam, berbelok-belok lagi pula sempit. Agak ngeri juga dibuatnya tapi tak seberapa jika dibanding dengan pengalaman kemarin malam yang cukup seru dan tegang waktu melewati jalan di perbatasan tersebut. Kenapa bisa begitu? Tunggu ya, bagian ini akan kubahas lagi di akhir cerita.

 

Makanya pagi itu begitu sampai di lembah dan melihat sebuah tempat parkir, langsung saja kami memutuskan untuk berhenti.

Suasana masih terlihat sepi di pagi hari liburan natal, terlihat dari jumlah kendaraan yang terbilang sedikit di tempat parkir tersebut.

Mesin parkir prabayarnya juga hanya mau menerima uang koin. Untung saja kami punya persediaan uang koin sebesar 7 euro yang berlaku untuk biaya parkir seharian.

Tempat parkirnya bernama Seidenfabriek. Dari sini jalanan beraspalnya berganti menjadi jalanan berbatu, dan dari sini pula penglihatan kami mulai dimanjakan oleh indahnya arsitektur unik rumah-rumah tradisional Jerman yang memiliki konstruksi setengah kayu ini.

DSC09694a
Rumah-rumah tradisional di Monschau

Melihat rumah-rumah kuno dari abad pertengahan ini, aku jadi ingat kemiripannya dengan rumah-rumah yang kulihat waktu kami sedang berlibur di puncak Matterhorn, pegunungan Alpen di Swiss. Bangunan kuno berusia ratusan tahun ini memiliki ciri khas berjendela kecil dengan bingkai warna warni dengan kerangka batang yang cukup banyak. Sangat instragamable banget deh!

Obyek wisata di Monschau

Selain rumah tradisional, di desa ini banyak juga dijumpai toko-toko souvenier, toko antik, toko roti, hotel, restoran dan kafe yang tersebar tak hanya di jalan utama desa, namun juga di gang-gang yang sempit.

 

Hiasan natal yang terpajang di hampir setiap rumah, toko, hotel, restoran dan bangunan lainnya di desa tersebut, membuat suasana desa yang nyaman ini serasa lebih semarak.

Dari papan informasi yang bisa ditemui di pinggir jalan, desa kuno ini memiliki sejumlah museum yang layak untuk dikunjungi. Konon kabarnya, Monschau memiliki lebih dari 330 bangunan yang berada dalam pelestarian monumen. Namun sayang sekali karena libur natal, semuanya tutup termasuk juga kantor informasi turis yang ingin kudatangi.

Jadinya kami hanya bisa menikmati dari luar keindahan bangunan kuno di desa Monschau ini. Dua buah bangunan menarik, cukup menyita perhatianku yaitu rumah Troistorff dan rumah merah (rote haus) yang dibuat pada abad ke 18.

 

Rumah Troistorff yang merupakan gedung pusat seni dan budaya ini, kabarnya berfungsi juga sebagai gedung catatan sipil. Wedding tree warna biru tosca yang dipajang di depan gedung terlihat artistik. Gambar dua cincin yang bertautan disertai nama-nama pasangan dan tanggal pernikahan terukir indah di setiap daunnya.

Tak jauh dari huis Troistorff terdapat bangunan yang didominasi warna merah bergaya Barok. Rumah ini dulunya adalah rumah dan kantor keluarga pengusaha tekstil di Monschau, yaitu Johann Heinrich Scheibler. Monschau memang telah dikenal karena perdagangan kain sejak abad ke-17. Pada paruh kedua abad ke -18, Scheibler memperkenalkan teknik baru untuk memproduksi tekstil yang lebih baik.

IMG_4146a
Museum Scheibler

Namun sayang pada pertengahan abad ke -19 perkembangan industri tekstil di Monchau menjadi tersendat dan berujung ditutupnya pabrik tekstil pada tahun 1908. Setelah tahun 1960 an praktis hampir tidak ada lagi industri tekstil yang berkembang. Saat ini rumah Scheibler berfungsi menjadi museum yang menyimpan koleksi kain-kain yang pernah diproduksi di Monschau.

Tak jauh dari kedua gedung tadi, di sebuah pertigaan jalan terlihat sebuah monumen berupa sebuah air mancur yang menceritakan proses pembuatan tekstil yang prosesnya digambarkan oleh tiga buah patung perunggu.

 

Makin jauh kami berjalan mendekati ke ujung desa, samar-samar terdengar gemericik suara air yang ternyata berasal dari sebuah sungai. Ya Inilah sungai Ruhr, sungai yang membelah desa Moschau. Terbayang olehku kejernihan air sungai ini pernah dimanfaatkan penduduk beberapa abad yang lalu untuk membantu proses pembuatan tekstil dan menghasilkan kain dengan kualitas bagus dan menjadikan Monchau sebagai kota tekstil terkenal dan memiliki pelanggan di seluruh dunia.

Pemandangan dari tempat yang tinggi

DSC09762
Jalan setapak menuju bukit di desa Monschau

Karena Monschau terletak di sebuah lembah, maka kami memiliki kesempatan untuk melihat-lihat desa ini dari tempat yang berbeda pada ketinggian tertentu. Kami mengunjungi dua sudut pandang yang berbeda. Yang pertama adalah taman kota (stadtpark). Letaknya berada persis di samping sungai Ruhr. Untuk sampai di sana, kami berjalan sampai ke ujung desa dekat tempat parkir kendaraan yang bernama Burgau. Lalu kami menyeberangi jembatan di atas sungai Ruhr. Sebuah jalur setapak yang letaknya menyusuri tebing di sepanjang sungai Ruhr akan membawa kita sampai di atas bukit. Kegigihan kami bercapek-capek menempuh jalan setapak yang cukup terjal ini diganjar dengan pemandangan yang cukup bagus. Rumah -rumah di desa Monschau di bawah sana jadi mengecil terlihat seperti melihat mainan.

DSC09773b
Pemandangan dari atas bukit dari tempat pandang yang pertama

Tempat pandang yang kedua adalah pemandangan dari salah satu bangunan tertua di Monschau, berupa sebuah kastil yang terletak di atas bukit. Letak kastil Monschau ini di seberang titik tempat pandang yang pertama (stadtpark). Untuk ke sana kami menuruni bukit lagi dan berjalan lagi melewati pusat desa. Lalu kami mendaki lagi jalanan yang terjal selama kurang lebih 20 menit. Kastil ini dibangun pada abad ke-13. Setelah sempat diperluas pada akhir abad pertengahan dan mengalami pergantian pemilik, kastil Monschau kembali dipugar setelah perang dunia pertama. Perluasan dilakukan dengan dibangunnya sebuah asrama pemuda di sayap sebelah barat kastil. Lalu pada musim panas pekarangan kastil disulap menjadi arena untuk pagelaran konser dan opera.

 

 

Kuliner di Monschau

Berjam-jam berjalan kaki mengeksplor desa tua nan cantik dengan kondisi jalan yang naik turun tentunya melelahkan dan memakan energi banyak. Apalagi cuaca di luar di akhir tahun yang dinginnya cukup menggigit, membuat perut cepat keroncongan. Kamipun lalu mampir ke salah satu kafe dan memesan coklat panas ditemani sajian istimewa apfelstrudel yang rasanya menggugah selera. Tak lupa aku membeli oleh-oleh khas Monschau, kue printen yang rasanya mirip seperti kue spekulas, salah satu kue khas di Belanda.

 

 

Jalur Highway to Hell

Masih ingat tentang jalur ” Highway to hell” di awal tulisanku kan?

Sore harinya dalam perjalanan pulang hanya beberapa menit dari Monschau masih di perbatasan antara Jerman dan Belgia, kami kembali melewati jalan propinsi yang kemarin malam membuat jantung kami dagdigdug.

Begitu melewati sebuah pamflet yang bertuliskan Highway to Hell. Let’s shake forever… kami semua ketawa dan ingat pengalaman seru melewati jalur sepi di tengah hutan ini.

DSC09893a
Jalur Highway to Hell

Entahlah, kemarin malam tak lama setelah melihat pamflet di pinggir jalan tersebut, terasa sekali kondisi jalannya bergelombang di beberapa tempat. Suasana di sepanjang jalan lama-lama juga makin senyap. Tak terlihat satupun perumahan, lampu penerangan jalanpun tak ada. Kami semua memelototin jalan, berkonsentrasi penuh sewaktu melewati jalur yang kanan kirinya ditumbuhi batang-batang kayu yang rapat. Suasana gelap gulita makin terasa sekali karena semalam kami jarang berpapasan dengan kendaraan lain. Apalagi tak lama kemudian cuaca menjadi berkabut sehingga harus tetap hati-hati dan selalu waspada dalam berkendara karena jarak pandang yang terbatas. Alhamdulillah beberapa saat kemudian setelah menempuh perjalanan yang mencekam ini kami akhirnya selamat sampai di penginapan.

Si adik yang semalam paling menikmati perjalanan yang seru dan penuh avontur itu, begitu sampai di penginapan langsung browsing di internet untuk mencari tahu tentang jalur Highway to Hell. Adik tampak terlihat serius memelototin gadgetnya. Beberapa saat kemudian, adik berseru,”Ooo…….Highway to Hell tuh ternyata nama restoran di Monchau kok mam…nggak usah takut! “. “Nih,…..alamatnya di sini nih mam’, imbuh si adik sambil menyodorkan gadgetnya padaku.

Sayang kami tak ada waktu lagi mampir ke restoran tersebut, karena tak ingin kemalaman lagi di jalan seperti kemarin.

Dari informasi yang kuperoleh di internet, ternyata rambu tersebut memang sengaja dipasang oleh pemerintah setempat untuk mengingatkan pengendara mobil agar lebih waspada dan berhati-hati dengan kondisi jalan aspal yang bergelombang.

Anda tertarik juga berkunjung ke Monschau? Tips dariku, rencanakan jam keberangkatan anda dengan baik agar perjalanan anda nyaman sampai di Monschau dan siapkan uang kontan 7 euro untuk bayar parkir di dalam kota.

Semoga bermanfaat!

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s