Mengenal Kebudayaan Mentawai di Museum Leiden

DSC09629a
Jaraik, hiasan yang biasa dipajang di depan rumah tradisional Mentawai (Uma)

Beberapa waktu yang lalu aku dan adik berkunjung ke museum Volkenkunde di Leiden. Awalnya kami hanya ingin melihat pameran temporer “Cool Japan”. Namun ketika browsing di internet, ternyata di tempat yang sama juga sedang ada pameran temporer kebudayaan Mentawai yang tentunya asyik juga untuk didatangi.

Museum Volkenkunde letaknya sangat strategis. Dari stasiun Leiden sangat dekat, hanya berjalan kaki sekitar 5 menit. Yang memilih berkendaraan pribadi seperti kami, juga tersedia area parkir di dekat museum. Dari tempat parkir ini, berjalan kaki juga sekitar lima menit. Tahu-tahu kami sudah memasuki kompleks museum dari arah belakang, melewati sebuah banner berukuran besar yang berisi kumpulan foto-foto manusia dari berbagai etnis di seluruh dunia. Banner ini tepat sekali untuk menggambarkan koleksi museum volkenkunde yang mengekspos masyarakat dunia yang memiliki tradisi budaya beragam. Koleksinya lengkap dan bervariasi dari semua peradaban terkenal dari segala negara. Konon kabarnya museum Volkenkunde di Leiden ini adalah salah satu museum tentang manusia yang tertua di dunia. Ada kurang lebih 200. 000 obyek yang dimiliki oleh museum dan 500. 000 sumber audiovisual dari seluruh dunia.

Kepulauan Mentawai

DSC09630a
Peta kepulauan Mentawai

Sebuah obyek yang sepintas bentuknya mirip jangkar, menyapa kami di pintu masuk ruangan di lantai satu museum. Inilah Jaraik, hiasan yang biasa dipasang di depan rumah tradisional penduduk Mentawai. Di sebelahnya tertulis thema pameran ini dalam bahasa Belanda: “Mentawai schatten uit het depot”, artinya benda-benda budaya dari Mentawai.

Kepulauan Mentawai adalah gugusan pulau-pulau yang secara geografis terletak di Samudera Hindia dan secara administratif masuk ke dalam provinsi Sumatera Barat. Kepulauan Mentawai berada di sisi barat provinsi Sumatera Barat. Pulau yang terbesar adalah Pulau Siberut kemudian disusul oleh pulau Sipora, pulau Pagai Utara dan pulau Pagai Selatan.

Penelitian tentang Mentawai

Benda-benda yang dipamerkan di museum ini merupakan koleksi Reimar Schefold, seorang antropolog dari Universitas Leiden.

Selama dua tahun, antara tahun 1967 sampai dengan tahun 1969 Schefold menetap di Siberut untuk melakukan penelitian. Dia tinggal bersama suku Sakuddei dan dengan bantuan Tengatiti, Schefold mudah berkomunikasi dengan penduduk suku Sakuddei yang tinggal di pedalaman hutan Siberut tersebut. Kehidupannya selama tinggal diabadikannya dalam bentuk foto, publikasi buku,film dan rekaman musik yang sebagian besar dapat dinikmati pengunjung di museum Volkenkunde ini.

Mencari keharmonisan di lingkungan tradisional Mentawai

DSC09632a
Peralatan yang biasa dipakai dukun di Mentawai

Suara alat musik yang bunyinya mirip kentongan terdengar nyaring di ruangan yang berukuran kira-kira 5m x 7m ini. Sesekali bunyi kentongan tersebut berpadu dengan suara yang meraung-raung yang kedengaran seperti suara orang yang sedang merapal mantra. Kesannya terasa mistis sekali. Apalagi obyek berikutnya yang kami lihat adalah benda-benda yang biasa dipakai oleh seorang dukun (shaman) di Mentawai dalam upayanya menyembuhkan penduduk yang sedang menderita sakit.

Dalam pandangan tradisional masyarakat Mentawai, semua memiliki jiwa tak hanya manusia namun juga tumbuhan, hewan dan benda-benda di sekitarnya. Oleh karena itu masyarakat sangat menghormati lingkungan mereka agar terjalin hubungan yang harmonis.

Terganggunya keharmonisan menyebabkan penduduk dan hewan menjadi sakit, atau benda-benda tidak berfungsi sebagaimana mestinya lalu terjadilah bencana. Upaya pencarian keharmonisan ini sangat kuat di lingkungan penduduk tradisional Mentawai. Hutan yang lembab bukanlah lingkungan hidup sehat yang memungkinkan timbulnya banyak penyakit.

Di sinilah peran seorang dukun (shaman) juga sangat penting di lingkungan penduduk tradisional Mentawai, karena hanya merekalah yang mampu melihat dan berkomunikasi dengan roh-roh leluhur. Dalam pandangan tradisional Mentawai, seseorang menjadi sakit karena jiwanya dilemahkan oleh kekuatan jahat. Akibatnya jiwa dapat melepaskan diri dari tubuh. Dukun lalu harus memikat jiwa dengan mantra dan tanaman obat yang tepat sehingga jiwa tersebut dapat kembali ke tubuh manusia dan pasien tersebut menjadi sembuh dan terhindar dari bala bencana.

Rumah tradisional Mentawai

DSC09644a
Uma, rumah tradisional penduduk Mentawai

Bagian menarik dari budaya Mentawai ini menurutku adalah keberadaan rumah tradisional penduduk Mentawai yang dikenal dengan nama Uma.

Uma sebenarnya adalah sebuah rumah panggung besar yang dapat ditemui di pedalaman hutan dan ditempati oleh beberapa keluarga yang berasal dari garis ayah. Rumah-rumah tersebut dibangun dari kayu dan bambu.

Barang-barang serta peralatan rumah tangganya juga hampir semuanya terbuat dari bahan kayu. Keranjang-keranjang dijalin dari alang-alang, pakaian terbuat dari daun dan kulit kayu. Hanya besi, manik-manik, kain katun berasal dari luar Mentawai. Saat ini kelambu sangat populer, penduduk menukarkannya dengan hasil hutan seperti kelapa dan rotan.

 

Mereka mempertahankan hidup dengan cara beternak ayam dan babi, dan berburu monyet,rusa, babi hutan serta memancing. Makanan pokok mereka adalah sagu dan umbi-umbian. Produk-produk yang mereka butuhkan seperti peralatan besi dan mesin tempel, mereka dapatkan dari hasil pertukaran dengan pedagang dari daerah lain

Penduduk Mentawai juga memiliki cara hidup bersama yang egaliter tanpa seorang pemimpin. Setiap anggota dewasa dalam uma mempunyai kedudukan yang sama kecuali penyembuh yang mempunyai hak lebih tinggi karena dapat menyembuhkan penyakit dan memimpin upacara keagamaan. Makanan dan barang-barang mereka bagi bersama. Seluruh makanan, hasil hutan dan pekerjaan dibagi dalam satu uma. Setiap keluarga membuat sendiri apa yang mereka perlukan. Meskipun laki-laki dan perempuan memiliki tugas yang berbeda namun status mereka dalam keluarga adalah setara.

Penanaman, pemeliharaan dan pemanenan di kebun dilakukan oleh lelaki. Sedangkan mengeringkan sagu serta memasak merupakan tugas wanita. Selanjutnya pisang, umbi dan kelapa ditanam. Sementara pohon mangga dan durian juga tumbuh subur di sana.

DSC09643a
Film dokumenter tentang penduduk Mentawai

Di tengah ruangan tampak dua pengunjung sedang duduk menikmati film dokumenter tentang penduduk Mentawai yang sedang mengolah sagu. Sementara pengunjung yang lain terpaku melihat benda-benda kuno yang dipajang di sepanjang dinding kaca.

Era kolonial

DSC09639a
Mentawai pada masa penjajahan Belanda

Pengunjung di ruangan ini juga diajak oleh Schefold mengintip foto-foto suasana masa kolonial di Mentawai. Akhir abad ke sembilan belas adalah abad penjelajah. Misionaris dan pejabat pemerintah kolonial Belanda mulai mengenal kepulauan Mentawai. Mereka terkesan dengan kepedulian, keharmonisan dan keramahan penduduk pulau. Namun pada akhirnya konfrontasi dan permusuhan dengan penduduk tak dapat terhindarkan karena mereka menolak melakukan pekerjaan yang dipaksakan oleh Belanda. Letaknya yang jauh dan terpencil, pulau tersebut ketika itu malah dimanfaatkan sebagai kamp tahanan bagi orang-oarng yang dihukum.

Setelah masa kemerdekaan, awan mendung meliputi Mentawai. Lima jenis agama yang diakui secara resmi oleh pemerintah Republik Indonesia diberi hak hidup, sedangkan kepercayaan asli Mentawai yang bersifat animistis dilarang dan dihapuskan.

Prehistori

DSC09641a
Tambur budaya Dongson

Dari penelitian yang dilakukan beberapa ahli sejarah, pada jaman dahulu penduduk Mentawai berhubungan erat dengan budaya perunggu atau yang dikenal dengan budaya Dongson di Vietnam Utara. Hal ini terlihat dari keberadaan beberapa motif benda-benda budaya di Mentawai yang motifnya ada kemiripan dengan budaya Dongson. Salah satunya terlihat dari sebuah tambur yang berasal dari Vietnam yang sering dipakai dalam acara-acara ritual. Tambur yang bentuknya mirip dandang terbalik itu salah satunya memiliki motif bintang. Motif ini terdapat juga pada jaraik dan juga menjadi salah satu motif tato tradisional penduduk Mentawai.

Mentawai sekarang

Mentawai telah banyak berubah dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 1970-an, pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan aktif untuk memordenisasi kehidupan penghuninya. Rumah-rumah tradisional di mana beberapa keluarga tinggal, sebagian besar digantikan oleh rumah keluarga tunggal di desa-desa. Kepercayaan tradisional juga sudah mulai menghilang seiring dengan dibangunnya gereja dan masjid. Di tepi pantai saat ini sudah tidak ditemui lagi rumah uma. Arus wisatawan meningkat, mereka mencari pengalaman autentik menjelajahi hutan dan juga berselancar di pantai. Saat ini hanya sedikit penduduk yang hidupnya masih tradisional hanya dapat ditemukan di pedalaman Siberut. Sebagian besar penduduknya sekarang mengenyam pendidikan bahkan banyak yang meneruskan sampai perguruan tinggi lalu kembali ke daerah bekerja sebagai pejabat atau guru. Beberapa bahkan aktif dalam memelihara dan mendokumentasikan budaya tradisional.

Yang membuatku bangga dan terharu adalah ketika aku membaca penjelasan tentang kesuksesan dua orang putra daerah Mentawai yang pernah mengenyam pendidikan di Belanda. Yang satu pernah melanjutkan tugas belajar di Vrij Universiteit di Amsterdam dan telah menyelesaikan studi masternya tentang pamannya yang seorang dukun. Sedangkan putra daerah yang lainnya, telah menyelesaikan S-3 nya di Universitas Leiden mengenai sejarah kependudukan di kepulauan Mentawai.

Telah bertambah lagi satu pengetahuanku tentang keanekaragaman budaya tanah airku Indonesia, yang lucunya malah kudapatkan di sebuah ruangan kecil ini di museum Volkenkunde Leiden.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s