Keunikan Universitas Belanda Tertua

Gedung pusat Universitas Leiden di Belanda
Academiegebouw Universitas Leiden

Keasrian arsitektur gedung-gedung universitas di tepi kanal kota Leiden membuatku ingin mengetahui lebih mendalam tentang salah satu universitas terbaik di Belanda ini. Apalagi beberapa waktu lalu aku sempat mendampingi adik mengikuti open day yang terbuka untuk mereka yang mencari informasi untuk kuliah di Universitas Leiden ini (baca Leiden from the water).

Sistem pendidikan tinggi di Belanda agak berbeda dengan di Indonesia. Pemerintah Belanda membagi perguruan tingginya menjadi dua kelompok, yaitu ‘universiteit’ atau universitas dan ‘hogeschool’ atau universitas ilmu terapan. Universiteit berfokus pada pengajaran yang bersifat teori dan riset, sedangkan hogeschool lebih menitik beratkan programnya ke arah praktek agar mahasiswa siap masuk ke lapangan kerja.

Pada saat ini terdapat 14 universitas (lengkapnya bisa dilihat di sini) dan 37 hogeschool (lengkapnya bisa dilihat di sini) yang tersebar di beberapa kota besar di Belanda. Di antara 14 universitas tersebut yang tertua usianya adalah Universitas Leiden. Universitas yang jadi tempat kuliah raja Belanda Willem Alexander, dan ibunda serta eyangnya, yakni ratu Beatrix dan ratu Juliana, ini dalam bahasa Latinnya disebut ‘Academia Lugduno-Batava’. Universitas Leiden didirikan oleh bapak bangsa Belanda Willem van Oranje pada tahun 1575, jauh sebelum berdirinya VOC pada tahun 1602 dan sebelum Spanyol mengakui kemerdekaan Belanda pada tahun 1648. Pendirian universitas ini adalah sebagai penghargaan kepada penduduk Leiden atas pengorbanan dan kegigihan mereka dalam mempertahankan kota Leiden pada tahun 1574 dari serangan tentara kerajaan Spanyol.

Zweetkamertje
Het Zweetkamertje Academiegebouw Universitas Leiden

Enam tahun setelah didirikan, Universitas Leiden menempati sebuah gedung bekas gereja yang kemudian diberi nama Academiegebouw. Gedung pusat Universitas Leiden ini dibangun pada tahun 1516 dan terletak di jalan Rapenburg 73. Sekarang Academiegebouw hanya digunakan untuk upacara seremonial, antara lain wisuda dan orasi ilmiah.

Di dalam bangunan tua ini terdapat sebuah ruangan unik bernama ‘zweetkamertje’, yang artinya kamar berkeringat. Kamar ini dahulu menjadi ruang tunggu para promovendus yang pastinya berdebar-debar pada saat menunggu waktu datangnya sidang pengukuhan doktor. Konon kabarnya anda belum dinyatakan lulus doktor atau PhD dari Universitas Leiden jika belum membubuhkan tanda tangan di dinding zweetkamertje ini.

Tepat di belakang Academiegebouw, anda akan menemukan Hortus Botanicus yaitu taman botani atau kebun raya milik Universitas Leiden. Taman botani bersejarah paling tua di Belanda ini didirikan pada tahun 1590.  Taman botani ini dibangun agar mahasiswa kedokteran pada waktu itu dapat melakukan penelitian tanaman obat-obatan.

Di taman ini jugalah awal mulanya bunga tulip dikembangkan di Belanda yaitu oleh Carolus Clusius (1526-1609), seorang dokter dan ahli botani yang diangkat sebagai direktur Hortus Botanicus pada tahun 1593.

Hortus Botanicus Leiden memiliki ikatan yang erat dengan kebun raya Bogor. Pada tahun 1817 kebun raya Bogor didirikan oleh Caspar Georg Carl Reinwardt. Enam tahun kemudian dia dilantik menjadi direktur di Hortus Botanicus Leiden dan membawa banyak koleksi tanaman tropis dari Indonesia seperti tanaman pemakan daging, anggrek, durian dan pandan.

Universitas Leiden
Musim semi di Hortus Botanicus Universitas Leiden

Mengunjungi Hortus Botanicus, berarti anda berkesempatan juga mengintip ke gedung peneropong bintang akademis tertua di dunia yang masih berfungsi, ‘De oude Sterrewacht’ yang kebetulan lokasinya bersebelahan. Observatorium bintang milik Universitas Leiden yang didirikan pada tahun 1633 ini sampai sekarang masih digunakan sebagai gedung perkuliahan dan juga tempat praktikum bagi mahasiswa astronomi. Lantai dasar gedung observatorium juga dilengkapi dengan ruangan pameran tentang astronomi.

Observatorium Universitas Leiden
Observatorium Universitas Leiden

Universitas Leiden memiliki reputasi international yang tinggi. Menurut lembaga pemeringkat universitas internasional Times Higher Education World (THE). Pada tahun 2016-2017, Universitas Leiden berada di urutan 77. Selain itu ada 15 tokoh peraih hadiah Nobel yang pernah menjadi mahasiswa, profesor atau peneliti di Universitas Leiden, antara lain Lorentz, Einstein dan Fermi.

Lokasi gedung perkuliahan Universitas Leiden tidak hanya tersebar di kota Leiden saja tetapi ada juga yang berlokasi di Den Haag. Universitas Leiden saat ini memiliki tujuh fakultas yaitu Arkeologi, Governance and Global Affairs, Hukum, Humanities, Ilmu sosial, Kedokteran dan Sains.

Fakultas Sains Universitas Leiden berlokasi di taman Bio Sains Leiden yang merupakan salah satu taman sains atau Science Park terkemuka di Eropa. Di dalam taman seluas kurang lebih 110 hektar ini anda dapat menjumpai gedung perkuliahan, laboratorium, kantor perusahaan-perusahaan bio-medis, rumah sakit medis Universitas Leiden LUMC (Leiden University Medisch Centrum), hotel, gedung olah raga dan asrama mahasiswa. Selain itu terdapat juga dua museum terkenal di Leiden yaitu museum interaktif biologi manusia Corpus Experience dan museum nasional sejarah alam serta pusat research biodiversiti Naturalis Biodiversity Center. Di kompleks ini juga terdapat museum Anatomi dengan koleksi yang cukup lengkap tentang anatomi tubuh manusia, diperuntukkan bagi mahasiswa dan dosen, peneliti di bidang biomedis. Museum Anatomi ini dapat dikunjungi masyarakat umum hanya dua kali setahun yaitu pada saat pekan museum pada bulan April dan pada saat hari ilmu pengetahuan Belanda di bulan Oktober.

Universitas Leiden
Perpustakaan Pusat Universitas Leiden

Universitas Leiden merupakan satu-satunya universitas di Belanda yang menawarkan program ekstensif tentang bahasa dan budaya dari kawasan Asia seperti Cina, Jepang, Korea, India, Tibet dan Indonesia. Program studi Asia ini menjadi bagian dari fakultas Humanities. Pada bulan september 2017 nanti Universitas Leiden akan meresmikan ‘Asian Library’ yang berada dalam satu atap dengan perpustakaan pusat Universitas Leiden. Asian Library memiliki koleksi yang sangat ekstensif tentang Asia serta koleksi trasnkrip paling lengkap di dunia tentang Indonesia, antara lain buku kuno, gambar, foto, peta serta manuskrip dari tokoh sejarah Indonesia. Hal ini tentu saja tak mengherankan karena Indonesia pernah menjadi koloni Belanda selama kurang lebih tigaratus limapuluh tahun.

Hoesein Djajadiningrat
Patung Hoesein Djajadiningrat

Kedekatan sejarah Indonesia dengan Universitas Leiden juga ditandai dengan banyaknya tokoh dari Indonesia yang pernah studi di universitas ini, antara lain Achmad Subarjo (Menlu Indonesia yang pertama), Ali Sastroamidjojo, Anak Agung Gde Agung (Menteri Negara Masalah Kemasyarakatan era Gus Dur), Sosrokartono (kakak R.A Kartini), Sri Sultan Hamengkubuwono IX  (Gubernur Yogyakarta), dan Hoesein Djajadiningrat. Hoesein Djajadiningrat (1886-1960) adalah orang Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar doktor di Universitas Leiden pada tahun 1913 dan menjadi guru besar pribumi pertama di Indonesia. Atas prestasinya pemerintah Belanda memajang patung beliau di ruang resepsi Academiegebouw Universitas Leiden, dan diresmikan oleh Wakil Presiden Indonesia Boediono di tahun 2014.

Untuk informasi lebih lanjut tentang Universitas Leiden, silahkan klik http://www.universiteitleiden.nl.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s