Mesjid Agung Kota Brussel

Mesjid Agung Brussel
Mesjid Agung Brussel

Mencari mesjid ketika sedang berlibur sudah menjadi kebiasaan kami semenjak tinggal di Belanda. Namun ketika berkunjung ke Brussel beberapa waktu yang lalu, kami tidak sempat browsing dahulu. Sesampainya di Parking 58 Brussel (baca: Hari-hari terakhir Parking 58 Brussel?), aku bertanya kepada pegawai kantor parkir tersebut apakah mereka menyediakan city map kota Brussel. Sekaligus aku juga bertanya tentang keberadaan mesjid di ibukota Belgia ini. Sambil memberikan city map, si bapak petugas langsung menunjukkan lokasi mesjid Brussel di city map. Dia juga menyarankan agar kami naik metro atau subway dari stasiun pusat Brussel untuk menuju ke sana.

Pintu gerbang Jubelpark
Pintu gerbang Jubelpark

Berbekal  tiket sekali jalan seharga 2,1 euro per orang ,kami naik metro nomer 1 ke arah Stockel dan turun di halte Merode. Tampak di seberang halte sebuah taman yang sangat besar. Inilah Jubelpark atau dalam bahasa Perancisnya Park du Cinquantenaire. Taman ini dibangun dalam rangka merayakan 50 tahun kemerdekaan Belgia di tahun 1880 atas perintah raja Leopold II. Kami lalu menyebrang jalan dan masuk ke dalam taman melewati bangunan besar berbentuk lengkung atau biasa disebut Triomfboog. Bangunan ini mengingatkanku pada monumen Arc de Triomphe di Paris. Di depan pintu gerbang di ujung timur taman ini tampak beberapa tentara sedang berjaga didepan truk mereka. Pemandangan yang biasa terlihat di tempat umum di Brussel sejak peristiwa pengeboman di airport Brussel tahun 2016 lalu.

Triomfboog di Jubelpark Brussel
Triomfboog di Jubelpark Brussel

Di sebelah kanan dan kiri Triomfboog terdapat tiga museum yaitu, Autoworld Brussel, Royal museum Angkatan Darat dan Sejarah militer dan museum Jubelpark. Kami terus berjalan lurus melewati deretan pepohonan yang berjajar rapih. Sesampainya di ujung barat di sisi kanan taman Jubelpark, terlihatlah menara dan atap bulat berwarna hitam dari mesjid Agung Brussel. Warna krem mendominasi dinding mesjid tertua di kota Brussel ini.

Kami lalu berjalan memutar mencari pintu masuk masjid, karena ternyata kami datang dari arah belakang. Dari luar tampak beberapa bagian cat nya banyak yang sudah mengelupas. Kaca jendelanya yang berwarna gelap bertralis hitam.

Mesjid yang sekaligus merupakan Pusat Kebudayaan Islam di Belgia ini bangunan aslinya dirancang oleh arsitek Ernest van Humbeek pada tahun 1879. Gedung ini dahulu dinamakan Pavilyun Oriental pada saat pameran nasional perayaan 50 tahun kemerdekaan Belgia. Waktu itu salah satu yang dipamerkan di pavilyun ini adalah lukisan sepanjang 114 meter karya Emile Wauters tentang Cairo dan sungai Nil. Pada tahun 1967 raja Boudewijn menghadiahkan gedung ini kepada raja Faisal bin Abdul Aziz dari Arab Saudi dalam kunjungannya ke Brussel untuk digunakan sebagai masjid selama 99 tahun. Konon kabarnya hal ini dilakukan raja Boudewijn sebagai tanda terima kasih atas bantuan finansial dari raja Faisal terhadap korban kebakaran besar di Brussel beberapa bulan sebelumnya. Setelah direstorasi oleh arsitek Tunisia bernama Mongi Boubaker, atas biaya pemerintah Arab Saudi, bangunan ini diresmikan kembali pada tahun 1978.

Ruang sholat mesjid Agung Brussel
Ruang sholat mesjid Agung Brussel

Suami lalu masuk ke tempat sholat bagian laki-laki di lantai tiga, sedangkan kami bertiga naik ke bagian perempuan di lantai tiga setengah. Tempat wudhu untuk laki-laki ternyata berada di lantai bawah tanah, sedangkan untuk perempuan berada di lantai ke dua. Agak sulit mencarinya karena petunjuk tempat wudhunya tidak terlalu jelas. Untung kami dibantu seorang ibu yang sedang membersihkan karpet. Tak ada pengunjung lain, hanya ibu yang sedang menyedot debu karpet tadi. Dia adalah Maryam yang sering datang ke mesjid ini untuk membersihkan mesjid secara sukarela. Ibu tiga anak yang berasal dari Afrika barat ini tadinya tinggal di Paris. Namun merasa lebih nyaman dan aman setelah menetap di Brussel walaupun belum memiliki tempat tinggal tetap di sini.

Mozaik keramik  di mesjid Agung Brussel
Mozaik keramik di mesjid Agung Brussel

Siang itu suasana di dalam masjid agak temaram. Kalau saja kami datangnya malam hari pasti suasananya lebih cantik demi melihat lampu kristal besar yang menggantung di tengah mesjid. Karpet berwarna merah, kontras sekali dengan warna dinding keramik yang bermotif mozaik hijau putih. Kaca jendelanya dengan mozaik warna warni menambah keindahan interior ruang sholat di mesjid Agung Brussel ini.

Setelah selesai sholat  kami tidak bisa berlama-lama menikmati keasrian mesjid Agung Brussel karena masih ingin melanjutkan perjalanan untuk mengeksplor kota Brussel.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s