Titik Temu Tiga Negara

Drielandenpunt
Wisata di Drielandenpunt

Mendung yang menggelayut semenjak pagi, tak mengurungkan niatku pergi menuju ke Drielandenpunt di  propinsi Limburg, Belanda Selatan. Kalau tempat terendah di Belanda sudah pernah kuceritakan beberapa waktu yang lalu (baca: Sekilas Belanda), maka kali ini aku menuju ke titik yang paling tinggi di negeri oranye ini. Setelah menempuh perjalanan kira-kira dua setengah jam, sekitar 239 km dengan mobil, sampailah kami di area parkir Drielandenpunt. Drielandenpunt berlokasi di kota Vaals ini merupakan  titik temu perbatasan antara tiga negara, yaitu Belanda, Belgia dan Jerman. Titik temu ini tepatnya berada di puncak bukit Vaalserberg, perbatasan kota Vaals (wilayah Belanda), kota Blieberg dan Kelmis (keduanyadi wilayah Belgia) dan kota Aken (di wilayah Jerman).

Drielandenpunt Boedewijn
Menara Boudewijn

Cuaca mendung dan masih cukup dingin di awal musim semi ini, sekitar 11 derajat Celcius tidak mengurangi keceriaan anak-anak yang sedang bermain di playing ground di depan kantor pusat informasi turis.

Sementara itu menara Boudewijn tampak menjulang megah di depan sana. Sayup-sayup terdengar suara musik yang ternyata datangnya dari salah satu obyek wisata “Labyrint Drielandenpunt”. Konon kabarnya merupakan labirin terbesar di Eropa. Info lengkap tentang tarif masuk dan jam buka silahkan lihat di http://www.drielandenpunt.nl.

Drielandenpunt tourist info
Kantor info turis

Mengingat hari semakin sore kami segera bergegas masuk ke kantor pusat informasi. “Kalau brosur kami nggak punya, adanya  berupa buku. Kalian bisa pilih mau yang 16 km atau yang paling singkat 4 km. Nih…silahkan bawa aja. Tapi kalau kantor sudah tutup, tolong masukkan aja buku ini di box warna hijau di seberang sana”, kata penjaga kantor, seorang ibu tua berambut  pirang itu  dengan ramah. Wah… alhamdulillah kami senang sekali dapat pinjaman buku gratis…he..he… Setelah mempelajari buku tersebut dan juga dengan pertimbangan waktu, kami akhirnya memutuskan untuk mengambil rute jalan kaki 4 km.

Rute ini mengajak kami berjalan ke arah menara Boudewijn melewati melewati empat  buah tugu batu. Dua tugu berbentuk lilin  rucing setinggi 1,3 meter mengapit  tugu yang lebih  ramping  setinggi 2 meter. Tugu mirip lilin ini di bagian depannya ada ukiran mahkota raja. Tugu ke empat berbentuk segitiga setinggi 50 cm terletak persis di depan  tugu yang mirip lilin. Sisi depan batu segitiga tadi ada ukiran  kalimat, “Hoogste punt van Nederland 322,5 meter boven AP “. yang artinya “Titik tertinggi di Belanda 322,5 meter di atas permukaan laut”.

Ceritanya dengan kekalahan Napoleon pada revolusi Perancis, maka Eropa perlu menentukan kembali batas-batas antar negara. Nah, antara tahun 1819 sampai dengan 1919, Vaals pernah menjadi titik pertemuan empat negara, yakni Belanda, Belgia, Prusia (sekarang menjadi Jerman), dan sebuah negara kecil bernama Moresnet netral.

Drielandenpunt monumen 2
Monumen drielandenpunt

Setelah perang dunia pertama berakhir,  Eropa kembali mengalami beberapa kali penyesuaian perbatasan. Moresnet netral masuk wilayah Belgia, dan semenjak itu vierlandenpunt menjadi  drielandenpunt. Sedangkan tugu batu drielandenpunt yang sesungguhnya baru dibangun pada tahun 1926, terletak hanya beberapa meter dari empat tugu batu ini dengan latar belakang bendera Belanda , Belgia dan Jerman.

Setelah puas berfoto-foto dan membaca sejarah drielandenpunt, kami berjalan lagi melanjutkan trekking masuk ke jalan setapak ke arah hutan di sebelah kiri menara. Beberapa saat kemudian jalanan terasa  mulai menurun. Di sebelah kiri tampak pohon pinus yang mulai menghijau.  Di sebelah kanan tanahnya lebih landai sehingga rumah penduduk setempat di bawah sana terlihat cukup jelas. Sesekali kami berpapasan dengan sesama pejalan kaki, baik pasangan suami istri maupun anak-anak muda yang sedang jogging. Beberapa kali kami harus agak menepi karena serombongan pengguna sepeda gunung  sedang melintas.  Jalanannya yang naik turun dan berkelok-kelok  memang asyik untuk bersepeda gunung.

Hanya saja mereka perlu berhati-hati karena beberapa hari ini hujan sehingga di sana sini jalanan agak becek. Aku jadi teringat tadi sebelum mulai  trekking, sempat membaca papan informasi berisi tentang  penyelundupan di hutan. Kekalahan Napoleon dalam revolusi Prancis pada tahun 1815, berakibat perekonomian di kota-kota  perbatasan drielandenpunt berkembang pesat. Hampir semua penduduk Vaals pernah terlibat dengan pasar gelap. Mereka banyak menyelundupkan  barang -barang. Kopi, rokok, bir dan anggur dimasukkan ke peti dan diselundupkan dari Jerman ke Belanda atau dari Belanda ke Belgia melewati hutan ini.

Keberadaan berbagai macam  fauna yang hidup di wilayah ini juga bisa kita ketahui dari papan informasi yang dipasang di beberapa tempat di hutan ini. Papan penujuk arah pun cukup jelas, dijamin anda tidak akan tersesat. Kami hanya sesekali melihat ke buku guide pinjaman dari kantor. Namun karena hari menjelang gelap  kami akhirnya memutuskan memotong rute perjalanan untuk kembali lagi ke atas.

Dalam perjalanan kembali ke kantor turis, kami melewati  sebuah menara  yang diberi nama menara Wilhelmina. Nasibnya sama seperti menara Boudewijn, kami tak ada waktu untuk naik sampai atas melihat pemandangan tiga negara dari ketinggian sekitar 50 meter.

“Mam jangan lupa buku guide nya dimasukkan ke box!”, si bungsu mengingatkanku.

Satu hal yang sedari tadi kupikirkan dan tidak kulupakan sih mencicipi lezatnya apel vlaai khas Limburg di cafe  sebelah menara Wilhelmina…hmmm lekker.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s