Secuil Jepang di Belanda

Wisata taman Jepang di Belanda
Taman Jepang di Den Haag

Semarak musim semi di Belanda tidak hanya diwarnai oleh keindahan bunga Tulip, Narsis, Hyacinth serta bunga-bunga lainnya yang ditanam di kebun-kebun bunga de Bolenstreek (baca: Menyisir kebun bunga de Bollenstreek) atau di taman bunga Keukenhof. Di kebun raya  Clingendael yang terletak di antara Wassenaar dan Den Haag terdapat sebuah taman unik nan asri yaitu taman Jepang atau dalam bahasa Belandanya ‘Japanse tuin’. Lokasinya mudah dijangkau baik dengan kendaraan pribadi maupun dengan kendaraan umum. Dari stasiun pusat Den Haag tinggal naik bus nomer 18 atau 23 ke arah Clingendael. Setelah berjalan kaki di antara pohon-pohon Linden dan rerimbunan tanaman di ‘Sterrenbos’ sekitar sepuluh menit dari tempat pemberhentian bis atau tempat parkir mobil, sampailah kita di depan pintu utama taman Jepang.

Masuk ke taman ini sama sekali tidak dipungut biaya. Namun karena koleksi tanaman dan lumut-lumutnya sangat rentan terhadap kerusakan, taman Jepang ini dibuka hanya 8 minggu dalam setahun, enam minggu di musim semi dan dua minggu di musim gugur. Taman Jepang ini tidak terlalu besar. Luasnya hanya sekitar 6800 m2. Dari luar taman ini dibatasi pagar bambu sederhana. Di luar pintu gerbang terpampang informasi tentang kapan taman ini mulai dibuka beserta peraturan yang harus dipatuhi pengunjung. Penyandang disabilitas disediakan pintu masuk khusus. Demi keindahan dan kenyamanan, pengunjung dilarang membawa hewan piaraan seperti anjing. Kereta dorong bayi juga harus dititipkan di kantor jaga yang letaknya di sebelah kiri pintu masuk.

Jalan-jalan taman Jepang di Belanda
Gubug tradisional Jepang

Disambut kicauan burung yang bersahut-sahutan, kami memasuki area taman Jepang ini weekend yang lalu. Untuk menuju ke bagian utama taman kami harus melewati gapura khas Jepang selebar satu meter. Jalan di bagian depan taman ini memang sempit. Pengunjung bergantian keluar masuk lewat gapura. Dua petugas terlihat berdiri mengawasi dari pinggir pagar bambu. Hamparan lumut hijau kekuningan terpapar sinar matahari musim semi terlihat rapi menghias kanan kiri jalan setapak memberi kesan sejuk dan damai. Di atasnya sebuah gubuk kecil khas Jepang berdiri kokoh, lengkap dengan tempat cuci tangan beserta pancuran airnya. Menurut informasi yang terbaca di pintu masuk, ada lebih dari 40 macam lumut yang tumbuh di taman yang semenjak tahun 2001 dinyatakan sebagai monumen nasional ini.

Jalan-jalan taman Jepang di Belanda
Kolam dan lentera khas Jepang

Kolam sebagai salah satu elemen khas taman Jepang dengan pulau buatan ditengahnya menjadi pemandangan berikutnya. Lentera batu dan pohon Maple menjadi hiasan cantik di pulau tersebut. Ada yang unik dengan pohon Maple ini. Disamping berdaun hijau, ada juga yang daunnya kekuningan bahkan ada yang berdaun merah. Di kejauhan terlihat kemilau atap paviliun khas Jepang diterpa cahaya matahari siang. Pengunjung baik tua maupun muda terlihat duduk beristirahat di rumah khas Jepang tersebut. Sambil berteduh mereka memandang indahnya pesona bunga Azalea Jepang dan Rhododendron warna-warni yang sedang bermekaran penghias kolam yang berair bening. Bayangan bunga Azalea dan jembatan kembar berwarna merah ini terlihat jelas di kolam yang airnya tenang. Sebuah panorama yang sangat mengesankan. Kami merasa seolah-olah sedang berada di Jepang.

Jalan-jalan taman Jepang di Belanda
Bunga Azalea Jepang

Taman Jepang ini dibuat pada tahun 1902 atas perintah Marguerite M. Baronesse van Brienen (1871-1939) atau lebih dikenal dengan julukan Freule Daisy pemilik kebun raya Clingendael. Freule Daisy sering berkunjung ke Jepang seiring dengan berakhirnya politik isolasi Jepang pada tahun 1860. Dari sanalah awal tumbuhnya minat yang tinggi terhadap seni taman tradisional Jepang dan membuatnya terinspirasi untuk membuat replika taman Jepang Kyoto di Belanda. Dibelinya elemen-elemen khas taman Jepang seperti lentera batu, pancuran air, patung -patung, jembatan dan gubuk atau paviliun khas Jepang. Dalam pembuatan taman ini, Freule Daisy banyak dibantu oleh diplomat Jepang yang sedang bertugas di Belanda. Maka jadilah taman Jepang di Den Haag.

Jalan-jalan taman Jepang di Belanda
Pulau kura-kura dan pohon maple

Sebelum pulang, kami kembali melewati kolam berpulau dari sisi sebelah kanan. Sesaat tercium semerbak harum. “Ini bau wangi dari bunga Bosazalea, ya betul bunga yang warnanya kuning itu”, kata Niels penjaga taman Jepang yang sudah mengabdi selama 19 tahun sambil menunjuk tanaman yang dimaksud. Menurut Niels semua elemen yang berada di taman Jepang ini memiliki makna simbolis. Tidak hanya lentera-lentera batu dengan bentuk dan ukurannya yang bervariasi yang tersebar di seluruh taman, dua buah jembatan yang berwarna merah pun ada maknanya. “Pulau kecil berbentuk kura-kura ini menjadi simbol panjang umur” jelas Niels. Kami tak berniat mengganggu Niels yang nampaknya masih sibuk dengan pekerjaannya. Yang pasti, pada saat musim gugur nanti kami akan datang lagi ke sini untuk kembali merasakan nuansa Jepang dari negeri oranye ini.

Tips: Jika ingin mengunjungi taman ini tanpa terganggu oleh banyak pengunjung lain, datanglah pagi hari jam 09.00 pada saat taman baru dibuka atau sekitar jam makan siang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s