Berperahu Menikmati Kanal Den Haag

wisata kanal Den haag 1a
Suasana hari sejarah Den Haag

Suara musik klasik yang dimainkan oleh tiga remaja Belanda menyambut kedatanganku dan suami di pelataran ‘het Plein’ di jantung kota Den Haag. Lapangan ini letaknya di dekat gedung parlemen Belanda Binnenhof. Het Plein yang selalu dijaga oleh patung bapak negeri Belanda Willem van Oranye ini minggu lalu menjadi pusat acara ‘Dag van de Haagsche Geschiedenis’ atau hari sejarah kota Den Haag.

Pemerintah kota Den Haag menyelenggarakan kegiatan ini diikuti oleh 40 yayasan budaya, sejarah dan museum. Aktifitasnya sangat beragam baik untuk anak-anak maupun dewasa. Ada aktifitas yang gratis. Beberapa lainnya dikenakan biaya yang terjangkau. Namun kita terlebih dahulu harus antri untuk mendapatkan karcisnya. Tingginya minat warga Den Haag terhadap sejarah kotanya terlihat dari antrean yang panjang di beberapa stand. Alhamdulillah kami masih kebagian tiket. Salah satunya untuk mengenal sejarah Den Haag dari atas air.

wisata kanal Den haag 2
Perahu wisata kanal Den Haag

Lokasi tempat naik perahu bermotor ini berada di jalan Spekstraat 5. Tempatnya memang agak jauh dari het Plein sekitar 10 menit berjalan kaki. Perahunya lebih besar dari perahu ketika aku mengikuti wisata kanal di Leiden. Biayanya tidak terlalu mahal hanya 2,5 euro untuk tur selama 3/4 jam. “Sama seperti Amsterdam, Delft dan Leiden, Den Haag juga memiliki banyak kanal dan parit sebagai jalur transportasi”, tutur Frank pemandu kami saat perahu mulai bergerak. Kanal di Den Haag sudah ada semenjak abad ke 14 dan dibangun atas perintah pangeran Maurits, salah satu anak dari Willem van Oranye.

Jalan-jalan Den Haag
Rumah-rumah di pinggir kanal Den Haag

“Kalian lihat rumah nomer 16 kan? Rumah itu dahulu pernah ditinggali Mata Hari”, kata Frank menyebut spion wanita pada pada masa perang dunia pertama yang kontroversial itu saat kami melintasi kanal Nieuwe Uitleg. Abad ke 16 di jaman kejayaan Belanda atau Golden Eeuw, Den Haag termasuk kota yang sangat makmur. Warga Den Haag yang kaya kebanyakan tinggal di pinggir kanal Prinsessegracht dan Koninginnegracht yang sekarang sudah beralih fungsi menjadi perkantoran.

Kami juga lewat di bawah jembatan Dierentuinbrug, artinya jembatan kebun binatang. Antara tahun 1863 sampai dengan tahun 1943 Den Haag pernah memiliki kebun binatang. Lokasinya sekarang menjadi kantor pegawai provinsi (Provinciehuis dan Rijkwaterstaat) dan berada di dekat lapangan Malieveld tempat diadakannya acara tahunan pasar malam Tong-tong Fair. Pada waktu perang dunia ke dua kebun binatang tersebut terpaksa harus dibongkar karena dipakai untuk membuat jalur tembok Atlantik atas perintah tentara NAZI.

Jalan-jalan Den Haag
Pintu masuk parkir mobil di bawah kanal

Frank si pemandu tur orangnya suka bercanda. Ketika sampai di kanal Mauritskade dia berkata dengan serius bahwa saat ini Raja Belanda Willem Alexander sedang mengawasi pesiar kami dari salah satu gedung di pinggir kanal. Padahal yang dimaksud adalah sebuah poster besarnya yang ditempel di kaca sebuah gedung diseberang kanal. Selain sejarah kota Den Haag, kami juga mendapat informasi terkini tentang perkembangan infrastruktur di pusat kota ini. Ketika melintasi kanal Noordwal-Veenkade tak jauh dari istana Raja Willem Alexander Paleis Noordeinde, Frank dengan antusias menunjukkan pintu masuk tempat parkir bawah kanal VAB (Volautomatische Autoberging). Tempat parkir moderen dengan kapasitas sekitar 150 kendaraaan ini baru akan dibuka bulan Juli yang akan datang.

Jalan-jalan Den Haag
Tiarap siap melintas di bawah jembatan

Menurutku kanal di Den Haag tak seanggun kanal di Leiden, tapi kami mendapatkan pengalaman yang seru akibat konstruksi beberapa jembatan yang dibangun sangat rendah. Beberapa kali kami tidak hanya harus membungkukkan badan tapi benar-benar harus tiarap di lantai perahu ketika melintas di bawahnya. Kami semua tertawa mengalami kejadian unik ini. Keasyikan berwisata air di kanal Den Haag ini nampaknya membuat kami semua lupa waktu. Apalagi cuaca hari itu sangat cerah dan udara cukup hangat. “Masya Allah….sudah jam dua kurang lima menit”, kata suami mengagetkanku begitu perahu berhenti. Kami berdua langsung bergegas keluar dari perahu untuk mengejar tur berikutnya yang akan dimulai jam 14.00…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s