Journey into the Past in Hamburg

Jalan-jalan Terowongan Elbe
Terowongan di bawah sungai Elbe.

Akhir tahun lalu sehari setelah dari Kopenhagen, kami sekeluarga dan keponakan singgah di Hamburg Jerman. Sampai di pusat kota, hari sudah gelap. Padahal masih jam 16.30. Obyek wisata seperti museum pasti sudah tutup. Kami lalu memutuskan menuju ke ‘The Old Elbe Tunnel’ di jalan Bei den St. Pauli-Landungsbrϋcken 5 Hamburg.

Dibangun antara tahun 1907-1911 terowongan Elbe menghubungkan pusat kota Hamburg (St. Pauli-Landungsbrϋcken) di sebelah utara dengan distrik Steinwerder di sebelah selatan. Elbtunnel adalah terowongan pertama di Eropa yang berada di bawah sungai dan memiliki teknologi yang tinggi pada saat itu. Konon terowongan ini dibangun selain karena semakin ramainya arus lalulintas di sungai Elbe juga sebagai solusi yang paling tepat agar sekitar 20.000 orang yang setiap harinya bekerja di pelabuhan ketika itu bisa selalu datang tepat waktu tanpa terganggu cuaca buruk.

Jalan masuk untuk pejalan kaki ke terowongan Elbe berupa sebuah bangunan berkubah tembaga yang terletak persis di pinggir sungai. Di dinding luar dekat pintu masuk tertulis penjelasan bahwa terowongan ini dibangun oleh Holzmann & Cie GmbH Frankfurt dan arsiteknya adalah Ludwig Raabe dan Otto Wӧhlecke. Pintu masuk untuk kendaraan bermotor berada di samping gedung. Sayang sekali waktu kami ke sana aksesnya ditutup, sepertinya sedang direnovasi. Padahal aku juga pingin merasakan masuk ke bawah sungai dengan menggunakan mobil.

Jalan-jalan terowongan elbe 2
Salah satu relief di dalam terowongan Elbe.

Untuk masuk ke terowongan kembar Elbe, kami harus turun dulu dengan lift ke kedalaman 24 meter. Bagi mereka yang sportif bisa turun menggunakan tangga. Sampai di bawah terlihat ada empat lift khusus untuk mobil, dalam keadaan tertutup rapat. Kios penjual tiket masuk untuk mobil juga kosong. Kepalaku mendongak mengamati tangga yang meliuk-liuk serta lift yang naik turun mengangkut pengunjung dan pengguna terowongan. Kami disambut cahaya lampu yang berpendar dari arah terowongan. Menyusuri terowongan sepanjang 426. 5 meter dengan tinggi 4,5 meter ini memberi sensasi tersendiri. Seolah-olah aku sedang menempuh perjalanan di masa lalu. Pada jaman perang dunia ke dua penduduk Hamburg banyak yang bersembunyi di terowongan ini untuk menghindari serangan udara. Padahal resikonya sama saja. Bagaimana kalau dinding terowongannya jebol dihantam bom?
Keteganganku sirna demi melihat karya seni berupa relief mengkilat bermotif ikan, kepiting , kerang dan hewan penghuni sungai Elbe lainnya di sepanjang terowongan. Walaupun lebar terowongan sekitar 4,7 meter, beberapa kali kami hampir kesenggol sepeda karena keasyikan foto-foto.

Karena nilai historis dan juga prestasi teknologinya, pada ulang tahunnya yang ke seratus, terowongan Elbe ditetapkan sebagai landmark sejarah teknik sipil di Jerman dan sejak tahun 2003 menjadi salah satu monumen yang dilindungi.

Setiap hari terowongan Elbe dibuka 24 jam. Pejalan kaki dan pengendara sepeda tidak perlu membayar. Pengendara mobil dikenakan biaya 2 euro dan hanya pada hari Senin s/d Jum’at. Jam 05.30 – 13.00 dari arah utara (pusat kota) ke selatan (Steinwerder) serta jam 13.00-20.00 dari arah sebaliknya.

Sesampainya di ujung selatan terowongan kami berhenti sejenak menikmati pemandangan kota Hamburg di waktu malam. Hembusan angin malam ditambah dinginnya cuaca membuat kami tak mampu berlama-lama. Sebelum balik ke mobil, karena lapar, tukang jualan kentang goreng di stasiun metro di seberang jalan Landungsbrϋcken ramai-ramai kami serbu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s