Bon-bon Bremen

jalan-jalan dan wisata bremen
Toko bon-bon di Bremen

Cuaca  Bremen Jerman di penghujung akhir tahun lalu memang sangat tidak bersahabat untuk jalan-jalan.  Dinginnya menusuk tulang, ujung-ujung jariku rasanya mati rasa. Tapi karena penasaran ingin melihat “die bremer stadtmusikanten”, ya ditahan-tahan aja rasa dinginnya. Setelah menikmati uniknya bangunan di  sepanjang jalan Bӧttcherstraβe, aku berjalan cepat berniat menuju ke tempat parkir mobil. Namun langkah kakiku terhenti persis di depan sebuah pamflet yang bertuliskan “ Bremer bon bon Manufaktur”, letaknya  tak jauh dari museum Paula Modersohn Becker. Hm… sepertinya toko permen, jadi tak ada salahnya masuk ke dalam, sambil menghangatkan badan sebentar setelah beberapa jam kedinginan di luar. Begitu masuk aku terpesona melihat bon-bon dengan berbagai macam ukuran dari mulai sebesar ujung jari sampai sebesar kepala orang dewasa.

jalan-jalan dan wisata bon bon bremen
Bob-bon rasa buah-buahan

Yang menarik dari toko permen yang berlogo Bremen kota musik ini, selain menjajakan bermacam-macam permen pengunjung juga disuguhi demonstrasi pembuatan bon-bon. Dari balik kaca aku dan pengunjung  menyaksikan bagaimana proses pembuatannya. Gula pasir dimasak di atas panci tembaga sampai meleleh. Adonan lalu dituang di atas meja tahan panas dibolak-balik sedemikian rupa dan ditetesi warna merah dan aroma tertentu. Sebagian kecil dari  adonan yang berwarna merah tadi dipisahkan terlebih dahulu. Dengan hanya berbekal sarung tangan anti panas ketrampilan sang peraga dalam proses membolak-balikkan adonan membuat pengunjung terkesima. Kemudian adonan dikaitkan pada sebuah pengait yang digantungkan di dinding namun sambil ditarik dan diulur terus menerus. Adonan yang tadinya berwarna merah kini menjadi berwarna merah muda. Lalu adonan ini dicampur dengan adonan pertama yang masih berwarna merah asli lalu dibolak balik serta di ulur dan ditarik lagi di pengait tadi. Proses ini terus berlangsung sampai didapatkan motif zebra warna merah dan merah muda. Setelah itu adonan dimasukkan ke mesin pemotong dan hasilnya siap disajikan kepada pengunjung yang sedari tadi dengan sabar dan takjub mengikuti proses ini. Rasa permennya manis-manis asem dan di mulut langsung lumer karena masih hangat. Tak lupa buat oleh-oleh akupun membeli satu stoples bon-bon. Di luar hari bertambah gelap dan semakin dingin. Kali ini aku bergegas pergi karena masih harus melanjutkan perjalanan ke Flensburg.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s